Selasa, 02 Maret 2010

cerpen dewasa

Elegi Kidung Lalu


Dulu kami saling mencinta. Masa-masa itu adalah saat paling haru biru buat kami. Kami bertemu, berkenalan, mencintai dan menjauhi. Kami tersenyum, tertawa, tersedak bahkan menangis menjalaninya. Tapi itu dulu… dulu waktu kami masih begitu naïf. Kami berusaha mencari cinta sendiri tanpa sedikitpun ingat kepada Sang Pemilik Cinta sampai akhirnya kecemburuanNya pulalah yang memisahkan kami.
Saat aku akhirnya memutuskan hubungan itu, aku tahu dia kecewa. Sangat amat kecewa. Begitu juga aku. Tapi saat itu aku sangat percaya dengan jawaban dari doa-doa dan shalat istikhorohku. ‘Maaf, Dzay, bukan wajahmu yang kuimpikan setiap saat, bukan namamu yang terus bergema di hatiku dan bukan pula dirimu yang direstui keluarga dan teman-temanku. Allah telah memilihnya. Tak pernah kurasakan keyakinan yang begini hebat. Aku tak akan pernah bisa menjelaskan perasaan ini. Tapi dia yang akan menjadi suamiku, Dzay. Laki-laki itu bernama Idrus,’ begitu email terakhirku padanya. Saat itu dia masih coba menghubungiku beberapa kali tapi sifat diamku akhirnya meruntuhkan semangatnya. Dzay menghilang bersama jutaan kecewa.
Itu dulu. Sepuluh tahun yang lalu. Kini hari-hariku sibuk mengurus kebutuhan mas Idrus dan si kecil Hulwa. Memang benar janji Allah, mas Idrus adalah pilihan Allah yg sempurna, ia suami yang sangat baik. Suami terbaik sedunia, begitu pujiku selalu. Selama perjalanan waktu, tak pernah sedikitpun ia kasar padaku. Bahkan seringkali mengalah agar aku dan Hulwa mendapat keleluasaan yang lebih baik. Suka duka berlalu satu persatu tapi kesabarannya tak pernah habis. Perjuangannya terhadap keluarga ini dan kasih sayangnya yang selalu tercurah, sungguh harusnya membuat aku tambah bersyukur.
Tapi nyatanya tidak! Meski sudah sekian lama, di sudut hati ini, masih ada seraut wajah lain yang tak juga rela untuk pergi. Wajah Dzay. Mungkin perasaan ini hanya seberkas rasa bersalah atau mungkin juga hanya sisa perasaan cinta zaman dulu. Meski sudah kukubur dalam-dalam, tapi kadang dengan berani wajah itu mendobrak masuk mimpiku, mengobrak-abrik hatiku, bahkan menganak tirikan keluargaku.
Kadang dengan geram aku meludahinya. Berusaha menistakannya meski tak pernah kutemui sedikit pun alasan yang tepat. ‘Dulu Dzay juga baik. Sangat baik malah. Bahkan ia lebih romantis daripada Idrus,’ bujuk suara dari hatiku yang busuk. ‘Ya, Dzay memang baik. Tapi itu kan pada masa pacaran. Siapapun selalu baik pada saat pacaran. Tapi tidak dengan Idrus. Idrus sudah terbukti laki-laki sejati. Penuh kelembutan pada keluarga dan selalu maju membelamu setiap kali keluarga liberalmu mulai mempermasalahkan masalah hijabmu. Dialah laki-laki pilihan Allah. Belum tentu kau hidup sebahagia ini jika dulu memilih Dzay, ‘ begitulah perdebatan hati ini setiap kali wajah Dzay menyeruak di sela-sela sepiku. Sampai akhirnya kusadari, aku memiliki cinta yang luar biasa dari mas Idrus dan Hulwa.
***
Hari ini mas Idrus berangkat ke Palestina. Tugasnya sebagai reporter harus membawanya ke negeri yang penuh konflik itu. Aku sungguh merinding. Baru sekarang kurasakan betapa aku sungguh-sungguh mencintai mas Idrus. Belum siap rasanya ditinggal lama-lama oleh mas Idrus. Apalagi ke tempat yang sangat jauh, Palestina yang terus berjihad melawan Israel. Rasa khawatirku pun membuncah. Walau bagaimanapun Israel tidak memandang calon korbannya. Bukan hanya orang-orang Muslim Palestina yang terkena mortir dan rudal, para staf PBB pun terkena sasaran bomnya. Mereka memang laknatullah. Aku menangis di pelukan mas Idrus saat mengantarnya di bandara. Tapi aku yakin Allah akan mengembalikannya utuh padaku jika tiba waktunya nanti. Dengan hati yang berusaha ikhlas, aku melepasnya pergi. Mas Idrus berjanji akan mengirim kabar setiap hari.
Hari pertama tanpa mas Idrus sudah pasti terasa sepi. Tapi email-email yang masuk dari mas Idrus mampu mengobati kerinduanku.
“Hai, sweety. Disini jam 8 malam. Mas kedinginan luar biasa. Serangan Israel sudah memutuskan aliran listrik daerah Gaza. Beruntung mas dibekali baterai yang sangat banyak untuk keperluan laporan mas ke Jakarta. Tapi tetap saja mas harus sembunyi dalam gelap. Pesawat pengintai terus mondar mandir di atas persembunyian mas. Kata warga di sini, mereka akan langsung membombardir jika melihat ada setitik cahaya saja. Makanya lebih baik mas ikut di bunker-bunker warga. Satu-satunya yang mas pikirkan hanya para bayi dan manula saja. Semoga saja Allah memberi kekuatan menahan hawa dingin yang amat sangat ini.”
Air mataku jatuh satu-satu. Kadang rasanya lebih baik tak mendengar kabar dari mas Idrus. Cerita tentang keadaan di sana membuatku semakin nelangsa. Ingin berlari menyusul mas Idrus tapi tak mungkin. Ingin menyumbang semua harta pun rasanya masih sangat kurang. Astagfirullah… betapa sempitnya hati ini. Segala rasa takut dan cemas ini kadang justeru membuat aku semakin merindukan Dzay. Betapa nyamannya aku dulu bersama Dzay. Tidak perlu memikirkan orang lain. Benar-benar hanya aku dan Dzay. ‘Allah, maafkan aku. Tapi semua perasaan ini berjalan begitu saja. Hatiku terasa membelah dua. Maafkan aku ya Allah. Aku sadar sesadar-sadarnya bahwa ini ujianMu tapi biarkan aku menikmati segala kidung lalu ini sebentar saja. Dalam hati saja,’ batinku pasrah.
Hari berikutnya email mas Idrus kembali hadir.
“Assalamu alaikum, cinta. Tahu ngga, mas berhasil menyusup masuk ke markas para mujahid. Subhanallah, mereka ini bukan dari pihak Hamas ataupun Fatah. Mereka justru berasal dari berbagai penjuru dunia. Dari Indonesia pun banyak! Mereka masuk secara illegal tanpa sepengetahuan Pemerintah. Cara mereka masuk ke Mesir seolah-olah ingin berkunjung seperti turis lainnya tapi di Mesir ini sudah ada jaringannya. Dari salah satu rumah warga Mesir yang berbatasan dengan Palestina, mereka membangun terowongan bawah tanah menuju rumah warga lainnya di Palestina. Hebatnya, aksi mereka tak terendus pihak Pemerintah Mesir atau Palestina. Lebih dahsyatnya lagi, mereka semua baru pertama kali bertemu di sini. Subhanallah ya… Meski begitu, kabar ini tak bisa mas teruskan ke televisi Jakarta. Alhamdulillah mas berhasil membujuk para kru lainnya untuk tutup mulut soal ini. Hanya ini satu-satunya yang mas bisa lakukan untuk Palestina. Mas tak akan menghianati perjuangan di sini. Bohong besar jika Palestina hanya butuh sukarelawan kesehatan dan uang. Mereka butuh tenaga pejuang di sini. Mas dukung penuh buat mereka.”
“Koq mas bisa masuk ke situ? Hati-hati mas!”, balasku cemas.
“Ada seorang mujahid di sini yang sangat ramah membantu. Mereka memanggilnya Hud. Dia juga dari Jakarta makanya komunikasi kita lancar. Sepertinya dia ketua pasukan Mujahid dari Indonesia. Entah kenapa dia sangat percaya pada Mas. Padahal dia menjaga jarak sekali dengan rekan-rekan wartawan lain. Mungkin karena mas ganteng ya?”
Begitulah hari-hariku selanjutnya. Email berbalas email. Ironisnya jika tak ada email dari mas Idrus, aku kembali teringat Dzay. Padahal aku sudah berusaha mengisi hari-hariku dengan berbagai kegiatan tapi entah kerinduan ini pun tak seperti biasanya. Kadang rasanya ingin menghubungi emailnya yang dulu. Tapi sudah kuazzamkan sungguh-sungguh untuk menyimpan semua di hati saja. Jikapun aku harus sakit dan mati karena menahan perasaan ini, itulah jihad kecilku sebagai isteri dan hambaNya. Tak akan kukotori perasaan suami, anak dan keluarga lainnya hanya demi perasaan yang hina ini. Seharusnya malah kubiarkan larut begitu saja dalam darah dan air mata sehingga perasaan terpendam ini bisa menjadi pengorbanan suci yang indah untuk kukenang di kuburku nanti. Aku tak akan kalah, Dzay.
“Lagi apa, cantik ? Mas habis makan bersama Hud dan pasukannya. Tadi kita habis serangan darat dengan tentara Israel. Mas dipaksa ngumpet di gorong-gorong oleh Hud padahal rasanya tangan ini juga udah gatal ingin ikut pegang senjata. Kayanya liputan mas akan jadi sangat spesial nanti. Tapi kalau dipikir-pikir kasihan deh Hud itu. Dia ganteng (masih gantengan mas sih), tinggi (mas kalah deh), berpendidikan pula. Tapi dia belum berkeluarga. Katanya, mana ada perempuan mau sama orang cacat! Tapi dimana cacatnya ya?! Kayanya dia sehat-sehat saja. Mau mas tanya tapi takut terlalu pribadi sih. Akhirnya dia malah tanya-tanya keluarga mas. Mas bilang mas punya istri cantik yang sholehah dan anak perempuan yang lucu sekali. Terus dia tanya kegiatan istri Mas. Mas bilang aja Ratih itu ibu rumah tangga tapi bukan ngurus rumah tanggaku aja. Semua orang juga minta diurus sama dia. Dari tetangga, anak kecil, ibu-ibu pengajian dan lain-lain. Terus Hud malah manggut-manggut. Padahal mas cerita sambil bercanda tapi mukanya malah sedih loh. Matanya malah berkaca-kaca. Mungkin sebenarnya dia juga ingin berkeluarga ya? Mas jadi penasaran dia cacat apa ya?!”
Hari-hari berikutnya, email dari mas Idrus selalu berhubungan dengan Hud. Dengan suka citanya mas Idrus bercerita bahwa ia diberi makan oleh Hud yang jauh lebih enak daripada pasukannya, dilindungi habis-habisan saat rudal-rudal Israel berhunjaman ke bumi Palestina, dan disiapkan fasilitas yang sangat nyaman sementara Hud sendiri tidur beralas pelepah kurma. Siapapun Hud itu, aku akan sangat berterima kasih jika mereka kembali ke Jakarta nanti. Seandainya dulu Dzay seperti Hud… Maksudku seperti orang-orang yang peka terhadap tuntutan sosial dan agamanya, terutama pada nuraninya sendiri. Mungkin ia bisa seperti Hud. Mungkin aku takkan ragu pula memilihnya. Mungkin aku tak akan sebegitu merindunya… Astaghfirullah.
“Cantik, lusa mas pulang sebentar. Mas kehabisan izin kunjungan. Tapi doakan mas karena Hud bilang hari ini mereka akan menyerang tentara Israel yang sudah sampai di Tel Hawwa. Semalam mas merinding karena Hud berwasiat untuk menyerahkan semua barangnya untuk mas bawa pulang jika sesuatu terjadi pada dirinya. Ia bahkan tak ingin pasukannya atau keluarganya yang membawa barang-barangnya. Semalam mas berhasil wawancara eksklusif dengannya. Tapi di laporan nanti harus mas edit wajahnya. Itu syarat utama dari Hud. Jadi cukup kita saja yang tahu ya sayang.”
“Apa isi wawancaranya, mas?’
“Kebanyakan sih soal ghirahnya tentang persatuan umat. Tapi mas sangat tertarik dengan pribadinya. Mungkin bisa mas buat versi khususnya. Akhirnya mas tahu cacat yang dia maksud, Rat. Ternyata dia menyesal sekali terlambat mengenal Allah. Itulah cacat pertamanya. Subhanallah ya… Dan dari keterlambatan itu pula dia juga harus kehilangan gadis pujaannya yang ternyata sudah lebih dulu memilih jalanNya. Akibatnya, menurut dia, hatinya sudah tak akan pernah utuh lagi untuk wanita manapun dan hal itu akan membuat dia zhalim pada wanita yang akan mencintainya. Itulah cacat keduanya. Tuh… luar biasa kan teman mas. Ternyata cinta bisa buat orang begitu sabar ya. Sudah dulu ya Rat. Suara tembakan tentara Israel kok semakin dekat. Mereka datang lebih cepat. Doakan mas ya.”
Aku tercenung di depan layar. Kok ada ya orang seperti Hud? Apa sebutan yang pas untuk dia ? Di satu sisi, ia sedikit terkesan cengeng dan sentimentil untuk seorang ketua Mujahid Indonesia. Tapi di sisi lain pengorbanannya luar biasa. Ia memilih menderita sendiri daripada harus menyakiti dan membagi hati dengan wanita yang kelak akan mencintainya. Dia bahkan belum mengenal siapa wanita itu tapi sudah memutuskan memuliakannya dan tak ingin menyakitinya hanya karena ia belum bisa melupakan gadis pujaannya. Hemmm… gadis yang beruntung. Tapi Allah pasti punya rencana sendiri. Ah… biarlah yang penting masku selamat dari gempuran tentara Israel. Dan Dzay… ah entahlah. Dia pasti juga sudah bahagia dengan anak isterinya. Semoga.
Berita di TV hari ini sangat menakutkan. Israel semakin mendekati Raffah. Itu berarti Hud dan pasukannya tidak berhasil menghalau mereka. Apa yang terjadi di sana? Bagaimana dengan masku ? Sedari tadi emailku tak pernah dibalas. Aku cemas luar biasa. Hanya memikirkan kemungkinan terburuk saja aku sudah menangis berlama-lama di atas sajadah. Ishbir Ratih, semua ada hikmahnya.
Lewat tengah malam ketika telepon rumahku berbunyi. Ternyata dari atasan suamiku di Jakarta. Ia mengabarkan bahwa suamiku terkena reruntuhan tembok dan juga sebuah luka tembak di kakinya. Para kru lainnya yang mengabarkan berita ini ke Jakarta. Pantas emailku tak pernah dibalas. Aku lemas tapi juga tenang ketika tahu bahwa mas Idrus sudah dibawa ke Rumah Sakit Mesir dan sedang diobati. Hanya saja rencana kepulangannya jadi tertunda meski demikian para kru lainnya sudah mengirimkan semua barang-barang milik mas Idrus lebih dulu ke Jakarta. Hal ini tentu untuk memudahkan kepulangan mas Idrus nanti ke Jakarta. Pasti sulit berjalan dengan satu kaki tertembak.
Aku semakin lega saat esok paginya mas Idrus berkesempatan menelponku langsung.
“Mas nggak apa-apa kok Rat. Cuma paha mas yang tertembak dan memar di sana-sini karena bangunan yang mas pakai buat sembunyi rubuh ketika di serang habis-habisan oleh tentara Israel. Lap top mas pun rusak. Tapi itu nggak seberapa dengan Hud dan pasukannya,” mas Idrus terdiam.
“Ada apa mas? Mereka syahid?”
“Ya, Rat. Pasukan lainnya bisa selamat tapi Hud tidak. Dia meninggal, Rat. Dia meninggal di atas tubuh mas. Dia merelakan dirinya menjadi tameng tubuh mas, Rat. Dia rela ditembaki untuk melindungi mas, Rat.” mas Idrus tergugu. Menangis … Entah apa perasaannya. Aku tahu dari semua ceritanya, batin mas Idrus sedang terikat kuat dengan Hud. Aku tak kuasa bicara. Lidahku pun ikut kelu. Hilang sudah semua rencana terima kasihku yang sangat amat untuk semua keramahan Hud.
“Sabar mas,” akhirnya cuma itu yang bisa keluar dari mulutku.
“Besok barang-barang mas mungkin sudah sampai di rumah, Rat. Begitu juga barang-barang Hud karena seluruh pasukan dan kru mas tahu itulah wasiatnya. Hud juga sempat bilang ada bingkisan untuk keluarga mas. Jaga baik-baik ya, Rat.Tanpa dia, mas sudah tidak ada..”
Esoknya, benar kata mas Idrus, barang-barang sudah sampai dengan jasa paket pengiriman tercepat. Aku mengenali sebagian dari barang-barang itu tapi ada sebuah tas besar lainnya yang tampak asing. Pasti punya Hud. Dengan hati-hati aku mulai membongkarnya. Di dalamnya ada beberapa baju, mushaf al-qur’an mini dan sebuah bingkisan dari kertas koran yang sangat lusuh tapi dengan jelas bertuliskan ‘untuk Ratih’ di atasnya. Dadaku berdebar kencang saat membukanya. Ternyata berisi sebuah mushaf al-qur’an mini juga dan sebuah surat di atasnya. Aku membacanya pelan-pelan.
‘Assalamu alaikum, Ratih. Semoga kalian selalu baik-baik saja.. Aku sudah mengenali masmu sejak pertama ia sampai di Mesir. Allah memang tak salah memilihnya untukmu. Jika surat ini sampai ke tanganmu , aku ingin kau tahu, aku ridho dengan pilihanNya. Terima kasih banyak, Rat. Terima kasih untuk kesempatan mencintai dan dicintaimu dulu tapi yang terutama terima kasih telah menyadarkanku tentang cinta sejati dari Yang Punya Cinta. Terima kasih telah menampar kebodohanku dan menyeretku kembali ke jalanNya. Aku memang kehilanganmu tapi aku sudah mendapatkanNya. Salam buat keluargamu.
M. Hudzaifah

Aku menangis sejadi-jadinya. Hud… Hud adalah Dzay !!!
***

Nama Penulis : Rieza Sumayya

Email : Riezayani@ymail.com